Abdullah bin Zubeir (Shahabat Rasulullah saw)

Posted on March 31, 2005 by bebekgoreng.
Categories: My Idol.

Sewaktu pembebasan Afrika,

Andalusia

dan Konstantinopel, ia yang waktu itu belum melebihi usia tujuh belas tahun,
tampil sebagai salah seorang pahlawan yang namanya terlukis sepanjang
masa……

Dalam pertempuran di Afrika sendiri, Kaum Muslimin yang
jumlahnya hanya duapuluh ribu orang tentara, pernah menghadapi musuh yang
berkekuatan seratus duapuluh ribu orang.

Pertempuran berkecamuk, dan pihak Islam terancam bahaya
besar! Abdullah bin Zubeir melayangkan pandangannya meninjau kekuatan musuh
hingga segeralah diketahuinya di mana letak kekuatan mereka. Sumber kekuatan
itu tidak lain dari raja Barbar yang menjadi panglima tentaranya sendiri. Tak
putus-putusnya raja itu berseru terhadap tentaranya dan membangkitkan semangat
mereka dengan cara istimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa
rasa takut…..

Abdullah maklum bahwa pasukan yang gagah perkasa ini tidak
mungkin ditaklukkan kecuali dengan jatuhnya panglima yang menakutkan ini.
Tetapi betapa caranya untuk menemuinya, padahal untuk sampai kepadanya
terhalang oleh tembok kukuh dari tentara musuh yang bertempur laksana angin
puyuh….!

Tetapi semangat dan keberanian Ibnu Zubeir tak perlu
diragukan lagi untuk selama-lamanya….! Dipanggilnya sebagian kawan-kawannya,
lalu berkata: - "Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku…..!
" Dan tak ubah bagai anak panah lepas dari busurnya, dibelahnya barisan
yang berlapis itu menuju raja musuh, dan demi sampai dihadapannya, dipukulnya
sekali pukul, hingga raja itu jatuh tersungkur. Kemudian secepatnya bersama
kawan-kawannya ia mengepung tentara yang berada disekeliling raja dan
menghancurkan mereka…., lalu dikumandangkan Allahu Akbar…!

Demi kaum muslimin melihat bendera mereka berkibar di

sana

, yakni di tempat
panglima barbar berdiri menyampaikan perintah dan mengatur siasat, tahulah
mereka bahwa kemenangan telah tercapai. Maka seolah-olah satu orang jua, mereka
menyerbu ke muka, segala sesuatu berakhir dengan keuntungan di pihak
Muslimin….!

Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui
peranan penting yang telah dilakukan oleh Ibnu Zubeir. Maka sebagai imbalannya
disuruhnya ia menyampaikan sendiri berita kemenangan itu ke Madinah terutama ke
Khalifah Utsman bin Affan….

(Sumber:
Rijal Haolar Rasul)

Rasulullah dan Yahudi

Posted on by bebekgoreng.
Categories: My Idol.

Di sudut pasar Madinah, seorang pengemis Yahudi buta
selalu terdengar mengomel, “Jangan dekati Muhammad! Dia orang gila, pembohong,
tukang sihir. Bila mendekatinya, kalian akan dipengaruhinya.”

 

Setelah Rasulullah saw wafat, suatu hari Aisyah berkata
kepada Abubakar, "Hampir tidak ada satu sunnah pun yang tidak ayah lakukan,
kecuali satu.”

“Apa itu?” tanya Abubakar.

“Setiap hari Rasulullah pergi ke ujung pasar membawakan
makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta di sana
, lalu menyuapinya.”


Esok harinya Abubakar menemui pengemis dimaksud dan
memberikannya makanan. Ketika khalifah mulai menyuapinya, tiba-tiba pengemis
itu berteriak, “Siapa kamu?”

“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abubakar.

“Ah, bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,”
sergah si Pengemis. “Bila ia mendatangiku, tangan ini tidak perlu memegang dan
mulut ini tidak susah mengunyah. Ia selalu menyuapiku dengan lebih dulu
menghaluskan makanan dengan mulutnya.”

 

Abubakar tak kuasa menahan tangisnya, lalu tersendat ia
berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa mendatangimu. Aku seorang
sahabatnya, sedangkan orang yang mulia itu telah meninggalkan kita. Dialah
Muhammad Rasulullah saw.”

 

Demi mendengar penjelasan Abubakar, si pengemis tersedak.
Orang yang selama ini ia coba bunuh karakternyaternyata justru pihak yang
paling peduli padanya. Lalu, dengan spontan, ia berucap, “Asyhadu an laa Ilaaha
Illallaah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Si Pengemis Yahudi akhirnya
bersyahadat.

 

Mahasuci Allah, betapa Rasul-Nya yang agung
telah menampakkan kesucian cinta Islam yang tiada tara

terhadap umat lain. “Tetangga yang paling pertama harus diberi makanan,” kata
Rasul yang agung ini, “Adalah mereka yang paling dekat pintu rumahnya dengan
kita.” Sejarah mencatat, tetangga terdekat Muhammad saw selama bermukim di
Madinah adalah orang Yahudi.